Minggu, 08 Juni 2014

Tugas Resensi Novel dan Cerpen


Resensi Novel dan Cerpen

Judul : Separuh Bintang
Penulis : Evline Kartika
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit : Mei-2009
Jumlah Halaman : 313 Halaman
Price : Rp 33.000,00

                                                             
Sinopsis :
Cinta itu nggak butuh alasan.
jika cinta membutuhkan alasan, ketika alasan itu hilang ,cinta juga akan hilang bersamanya....
lalu ketika seseorang yang kita cintai itu menghilang, apakah kita juga harus hilang bersamanya?
 
Dunia seakan terbalik bagi Chiara.
Dalam sekejap hidupnya yang penuh kebahagian berubah.
Setelah tahu statusnya sebagai anak haram - yang menyebabkan ayahnya marah dan kabur dari rumah, ditambah meningalkan ibu dan kakanya - Chiara mengunci rapat rapat sebagian dirinya.

Ditengah kesedihan dan keterpurukannya itu ,Aldy,sahabat sejatinya sejak kanak-kanak,selalu setia menemaninya.
Tapi,bisakah kesabaran dan ketulusan Aldy membuat Chiara bangkit lagi? Atau mungkin, perlu muncul kisah dan tokoh baru untuk memulai episode hidup Chiara yang selanjutnya? Who knows? .



Menurut saya teenlit ini cukup menarik untuk dibaca karena alur ceritanya jelas, dan buku ini sangat menceritakan kehidupan remaja yang nyata.
Kelebihan: untuk remaja menurut saya novel ini bagus untuk dibeli dan dibaca, konfliknya juga jelas alurnya tidak gampamg ditebak.
Kelemahan: terkadang ada beberapa bagian cerita yang tidak masuk diakal


CERPEN Kepada Tiankong, Langit yang Jauh


Identitas Cerpen
  • Judul : Kepada Tiankong, Langit yang Jauh
  • Pengarang : Naning Pranoto
  • Dimuat : Kompas 12/15/2002
  • Sumber : www.sriti.com/story_view
Cara dan Lama Baca
Dalam membaca cerpen Kepada Tiankong, Langit yang Jauh ini, saya membacanya sambil duduk, dan untuk menyelesaikan membaca cerpen ini, saya menghabiskan waktu sekitar tujuh menit.
Sinopsis
Cerpen berjudul Kepada Tiankong, Langit yang Jauh ini bercerita tentang pertemuan secara tidak sengaja antara seorang pemuda asal Indonesia dengan seorang gadis di sebuah pesawat terbang menuju Indonesia. Gadis itu berwajah sangat cantik dengan pakaian yang sangat sesuai ditibuhnya sehingga menarik perhatian setiap orang terutama bagi para laki-laki.
Tanpa diduga, ternyatab gadis itu duduk di samping kursi si Aku (si pemuda). Hal itu membuat jantung Aku berdetak sangat kencang, sehingga ia menjadi gugup dibuatnya. Keberuntungan bagi si Aku pun berlanjut, ternyata gadis itu ramah dan gadis itulah yang memulai pembicaraan diantara mereka.
Setelah pembicaraan berlangsung, ternyata diketahui bahwa gadis itu bernama Peony Wu, ia pergi ke Indonesia untuk mengunjungi Tian-Tiangkong untuk melaksanakan li, yaitu berbakti kepada keluarga. Tetapi tempat tujuan Peony membuat si Aku kebingungan, seumur hidup ia belum pernah mendengar tempat di Indonesia yang bernama Tian-Tiangkong. Untuk mengusir kebingungannya itu, ia pun menanyakannya pada Peony prihal Tian-Tiangkong tersebut.
ernyata Tian-Tiangkong itu berasal dari bahasa Mandarin yang berarti Langit. Tapi, bisa juga dimaknakan Surga atau Langit, Langit Yang Jauh…! Mendengar penjelasan singkat itu, si Aku tetap tidak mengerti maksud sesungguhnya, dan si Aku pun menanyakan kembali mengenai hal tersebut, lalu Peony pun menjelaskannya kembali.
Dahulu Di kota Batu-Malang nenekn Peony lahir, dibesarkan dan menikah serta punya tiga anak. Setelah menikah, ia dagang palawija, di Surabaya. Waktu perang kemederkaan ia menyumbangkan dagangannya untuk dapur umum, memberi makan para pejuang. Itu, karena kecintaannya terhadap Indonesia. Ironisnya, tahun ’62, ia dipulangkan oleh pemerintah Indonesia ke Tiongkok, karena ia tidak mau ganti nama Indonesia. Akhirnya ia terkena PP-10.
Karena PP-10 itu neneknya kembali ke Tiongkok. Karena ia lahir dan besar di Indonesia, maka ia merasa asing terhadap Tiongkok. Keterasingannya itu membuatnya gamang dalam menjalani hidup,di Tiongkok, apalagi ketika Mao Zedong memproklamirkan Revolusi Kebudayaan. Neneknya sempat gila karena disiksa oleh student yang menjadi Red Guard Mao. Itu, gara-gara nenekmya penganut Kong Hu Chu yang taat. Untung, ia bersama sepupunya berhasil melarikan diri ke Macao. Tetapi kedua anaknya hilang. Yang hidup tinggal ibunya yang kemudian menikah dengan orang Portugis
Neneknya meninggal dua bulan yang lalu, usianya 78 tahun. Ketika ia dipulangkan ke Tiongkok, usianya 38 tahun. Jadi, selama 40 tahun ia merindukan Indonesia yang disebutnya sebagai Langit Yang Jauh. Ia menyebut demikian karena untuk ke Indonesia baginya tidak mudah. Ia takut, kedatangannya ditolak pemerintah Indonesia. Maka, ia lalu berpesan, ketika meninggal minta dikremasi dan abunya ditaburkan di Gunung Sriti-Batu. Katanya, tempat itu sangat indah bak surga. Di Gunung Sriti ia punya kenangan manis, bertemu dengan seorang pemuda yang kemudian menjadi suaminya. Sayangnya, suaminya itu tidak mau menyertainya kembali ke Tiongkok. Ia memilih tinggal di Indonesia, mengganti namanya dengan nama Indonesia dan kemudian ia menikahi perempuan Boyolali. Kabarnya, ketika meletus G 30 S PKI, suami nenek Peony dibunuh dengan cara yang keji oleh penduduk setempat, karena ia dituduh PKI! Tapi, bagaimanapun nenek Poeny tetap menganggap Indonesia adalah Tiankong, sebuah Surga dan ia ingin menjadi salah satu penghuninya
Akhirnya si Aku pun mengerti maskud dan tempat Tian-Tiangkong, lalu Poeny pun mengajak si Aku ke Batu-Malang, untuk melaksanakan li bagi neneknya.
Tanggapan
Cerpen ini memang sangat menarik dan memberikan banyak pelajaran bagi para pembacanya. Kita bisa mengetahui keadaan pada saat zaman setelah kemerdekaan dan bagaimana kehidupan yang dialami oleh warga-warga keterununan. Adapun tema cerpen ini adalah mengenai kerinduan.
Gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang memang sederhana tetapi syarat akan makna. Para tokohnya pun seperti Aku, Peony Wu, dan nenek digambarkan secara jelas sehingga pembacanya bisa membayangkan bagaimana sosok dari para tokohnya. Aku adalah seorang pemuda biasa yang mudah tertarik pada wanita cantik serta memiliki sifat malu-malu. Poeny Wu digambarkan sebagai sosok wanita yang ramah, modis dan sangat cantik. Sedangkan nenek adalah seorang wanita tangguh, berpendirian dan sangat cinta Indonesia.
Alur dari cerpen ini bersifat mundur karena inti cerita ini adalah mengenai nenek Poeny Wu dan hal itu terjadi pada zaman dahulu, sehingga si penulis menggunakan cara penyampaiannya dengan cara Poeny Wu menceritakan kembali mengenai kehidupan neneknya kepada si Aku (pemuda). Adapun alur lengkapnya adalah sebagai berikut.
  • Masuknya Poeny Wu ke dalam pesawat
  • Bersebelahannya tempat duduk Poeny Wu dengan si Aku
  • Dimulainya pembicaraan diantara kedunya
  • Penceritaan mengenai nenk Poeny Wo dari semenjak ia dipulangkan sampai akhirnya meninggal
  • Pelaksanaan li bagi neneknya di Batu-Malang
Adapun sudut pandang yang digunakan oleh pengarang ialah sudut pandang orang pertama dimana hal itu cukup bagus, membuat para pembacanya seolah-olah dapat terlibat langsung ke dalam cerita tersebut.Adapun amanat yang dapat saya petik adalah kita harus cinta dan bangga akan tanah air kita Indonesia, seperti yang dirasakam oleh nenek Peony. Karena Indonesia merupakan Negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat indah bagaikan di Tian-Tiangkong
Cerpen ini memang sangat bagus umtuk dibaca oleh semua kalangan karena sangat merik dan mengandung bayak pelajaran yang dapat dipetik darinya.
Sumber:

Lili Putuh


tersudut ku dalam diam
menyimpan hingga akhinya tersesat
dapatkah terucap jika sejuk terasa menenangkan?

Asa yang hempaskan rasa 
Hadirkan ragu dalam sebuah tanya
Dapatkah terjawab jika ku mulai bersuara?

Terpejam mata tuk ku nikmati damainya diam
Terbentuk asa yang tak nyata
Haruskah terus ku bermimpi?

Sadarku dalam nyata hadirmu ada
Ku kagumi indahnya yang terjaga
Kedua mata yang menenangkan
Dan indah tericptanya senyuman

Lili Putih,  tetaplah bermekaran di tiap fajar
Berikan kesejukan bersama embun
Tetaplah kokoh berdiri hingga senja menanti


 Cipt : M. Fachry Hasyim