Selasa, 01 April 2014

Pupus

tersudut ku dalam memudarnya sebuah harap
pejaman mata membuatnya terhempas tuk terdiam
tak ada setitik cahaya yang membuatnya terang untuk mendamaikan

hingga akhirnya mulailah terbuka pintu itu dimana jejak-jejaknya akan terukir untuk terlupa
dan mulailah terbuka mata ketika cahaya itu perlahan membuatnya tersadar

ia berdiri dengan topangan kakinya yang rapuh
beranjak dari duduknya dan tetap menggenggam layunya merah mawar
dihampirinya embun tuk sejukan kembali tiap nafas yang terasa sesak

namun, perlahan jejak kaki itu mulai tercipta dan mulai kau temukan fajar di pagi itu
dan kau tatap dunia lalu berkaca pada air keruh
terlihatlah senyum yang mulai terukir dalam samar

sejuknya angin, menghempaskan serpihan layu dari bunga mawar itu
dan mawar itu menjauh pergi terhempas tanpa arah

dilepaskannya batang bunga mawar itu dan mulailah hadir air mata 
dingin, dingin membuat mata itu kembali terpejam
melihat cahaya dalam pejaman kedua matanya

lalu ia terus beranjak dan bisikan hatinya mulai mengarahkan ia ke ufuk barat 
tenggelam bersama sunset dan biarkan ombak menghempasnya jauh .... 

Senja Sore

biarkan semua ini menyendiri 
kokoh berdiri untuk menyambut matahari yang akan segera terpejam 

senja buta meregang sesak jiwa 
dalam jauh & merapuh di senja sore 

jejak yg akan segera terhapus, 
detak yg akan segera berhenti 

di akhir malam kematian bernyanyi dgn tenang 

mereka mulai mengiringi datangnya malam dengan sebuah pena. 

pena yg mengering akan sebuah air mata 

sunyi terdengar angin sore 
melambaikan tangan untuk pergi di hari ini 

rapuh, senja yg rapuh 
lemah akan dtgnya malam 
sepi mengintip dari kejauhan & siap membunuh 

aku, akan tetap disini 
berdiri di senja yang buta tuk mengakhiri dunia dengan sebuah pena yang tintanya terbuat dari air mata 

dan biarkan ku memejamkan mata ketika malam tlah tiba tuk menghapus dunia 
( Senja Sore - Fachry )