22 November 2010.
Engkau yang tak akan terlupakan mesikupun perlahan aku akan terlupakan.
Engkau begitu berarti dalam tiap air mata jatuh dan nafas yang sesak.
Aku merindukan sosok engkau di tiap gelap menyapa dan duka tiba untuk memeluk.
Aku, aku disini menunggu. menunggu dalam gelap yang tak mungkin bicara.
Deru air mata menyapa dengan tawa yang terbuat dari sebuah luka.
akankah kau rasa?
Aku yang terbaring mati dalam waktu, tak sempat bertanya kepada air mata
akankah kau kembali?
Aku terbaring bisu dimana mimpi buruk telah menantiku dengan tenang dan diam.
Hadir mengusikku dengan rintihan yang terdengar memekik.
Kembalilah engkau.
Kembalilah engkau untuk menyelamatkanku di kala ku terbangun menyambut pagi.
Aku akan menjagamu seperti lilin yang rela hancur untuk menemanimu dalam gelap.
Lalu, biarkan aku mati disini dengan harapanku agar waktu membawamu kembali untukku
