Resensi
Novel dan Cerpen
Judul : Separuh Bintang
Penulis : Evline Kartika
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit : Mei-2009
Jumlah Halaman : 313 Halaman
Price : Rp 33.000,00
Penulis : Evline Kartika
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit : Mei-2009
Jumlah Halaman : 313 Halaman
Price : Rp 33.000,00
Sinopsis :
Cinta itu nggak butuh alasan.
jika cinta membutuhkan alasan, ketika alasan itu hilang ,cinta juga akan hilang bersamanya....
lalu ketika seseorang yang kita cintai itu menghilang, apakah kita juga harus hilang bersamanya?
Cinta itu nggak butuh alasan.
jika cinta membutuhkan alasan, ketika alasan itu hilang ,cinta juga akan hilang bersamanya....
lalu ketika seseorang yang kita cintai itu menghilang, apakah kita juga harus hilang bersamanya?
Dunia seakan terbalik
bagi Chiara.
Dalam sekejap hidupnya yang penuh kebahagian berubah.
Setelah tahu statusnya sebagai anak haram - yang menyebabkan ayahnya marah dan kabur dari rumah, ditambah meningalkan ibu dan kakanya - Chiara mengunci rapat rapat sebagian dirinya.
Ditengah kesedihan dan keterpurukannya itu ,Aldy,sahabat sejatinya sejak kanak-kanak,selalu setia menemaninya.
Tapi,bisakah kesabaran dan ketulusan Aldy membuat Chiara bangkit lagi? Atau mungkin, perlu muncul kisah dan tokoh baru untuk memulai episode hidup Chiara yang selanjutnya? Who knows? .
Dalam sekejap hidupnya yang penuh kebahagian berubah.
Setelah tahu statusnya sebagai anak haram - yang menyebabkan ayahnya marah dan kabur dari rumah, ditambah meningalkan ibu dan kakanya - Chiara mengunci rapat rapat sebagian dirinya.
Ditengah kesedihan dan keterpurukannya itu ,Aldy,sahabat sejatinya sejak kanak-kanak,selalu setia menemaninya.
Tapi,bisakah kesabaran dan ketulusan Aldy membuat Chiara bangkit lagi? Atau mungkin, perlu muncul kisah dan tokoh baru untuk memulai episode hidup Chiara yang selanjutnya? Who knows? .
Menurut saya teenlit ini cukup menarik untuk dibaca karena alur ceritanya jelas, dan buku ini sangat menceritakan kehidupan remaja yang nyata.
Kelebihan: untuk remaja menurut
saya novel ini bagus untuk dibeli dan dibaca, konfliknya juga jelas alurnya
tidak gampamg ditebak.
Kelemahan: terkadang ada beberapa
bagian cerita yang tidak masuk diakal
CERPEN Kepada Tiankong, Langit yang Jauh
Identitas
Cerpen
- Judul : Kepada Tiankong, Langit yang Jauh
- Pengarang : Naning Pranoto
- Dimuat : Kompas 12/15/2002
- Sumber : www.sriti.com/story_view
Cara dan
Lama Baca
Dalam
membaca cerpen Kepada Tiankong, Langit yang Jauh ini, saya membacanya sambil
duduk, dan untuk menyelesaikan membaca cerpen ini, saya menghabiskan waktu
sekitar tujuh menit.
Sinopsis
Cerpen
berjudul Kepada Tiankong, Langit yang Jauh ini bercerita tentang pertemuan
secara tidak sengaja antara seorang pemuda asal Indonesia dengan seorang gadis
di sebuah pesawat terbang menuju Indonesia. Gadis itu berwajah sangat cantik
dengan pakaian yang sangat sesuai ditibuhnya sehingga menarik perhatian setiap
orang terutama bagi para laki-laki.
Tanpa diduga,
ternyatab gadis itu duduk di samping kursi si Aku (si pemuda). Hal itu membuat
jantung Aku berdetak sangat kencang, sehingga ia menjadi gugup dibuatnya.
Keberuntungan bagi si Aku pun berlanjut, ternyata gadis itu ramah dan gadis
itulah yang memulai pembicaraan diantara mereka.
Setelah
pembicaraan berlangsung, ternyata diketahui bahwa gadis itu bernama Peony Wu,
ia pergi ke Indonesia untuk mengunjungi Tian-Tiangkong untuk melaksanakan li,
yaitu berbakti kepada keluarga. Tetapi tempat tujuan Peony membuat si Aku
kebingungan, seumur hidup ia belum pernah mendengar tempat di Indonesia yang
bernama Tian-Tiangkong. Untuk mengusir kebingungannya itu, ia pun menanyakannya
pada Peony prihal Tian-Tiangkong tersebut.
ernyata
Tian-Tiangkong itu berasal dari bahasa Mandarin yang berarti Langit. Tapi, bisa
juga dimaknakan Surga atau Langit, Langit Yang Jauh…! Mendengar penjelasan
singkat itu, si Aku tetap tidak mengerti maksud sesungguhnya, dan si Aku pun
menanyakan kembali mengenai hal tersebut, lalu Peony pun menjelaskannya
kembali.
Dahulu Di
kota Batu-Malang nenekn Peony lahir, dibesarkan dan menikah serta punya tiga
anak. Setelah menikah, ia dagang palawija, di Surabaya. Waktu perang
kemederkaan ia menyumbangkan dagangannya untuk dapur umum, memberi makan para pejuang.
Itu, karena kecintaannya terhadap Indonesia. Ironisnya, tahun ’62, ia
dipulangkan oleh pemerintah Indonesia ke Tiongkok, karena ia tidak mau ganti
nama Indonesia. Akhirnya ia terkena PP-10.
Karena
PP-10 itu neneknya kembali ke Tiongkok. Karena ia lahir dan besar di Indonesia,
maka ia merasa asing terhadap Tiongkok. Keterasingannya itu membuatnya gamang
dalam menjalani hidup,di Tiongkok, apalagi ketika Mao Zedong memproklamirkan
Revolusi Kebudayaan. Neneknya sempat gila karena disiksa oleh student yang
menjadi Red Guard Mao. Itu, gara-gara nenekmya penganut Kong Hu Chu yang taat.
Untung, ia bersama sepupunya berhasil melarikan diri ke Macao. Tetapi kedua
anaknya hilang. Yang hidup tinggal ibunya yang kemudian menikah dengan orang
Portugis
Neneknya
meninggal dua bulan yang lalu, usianya 78 tahun. Ketika ia dipulangkan ke
Tiongkok, usianya 38 tahun. Jadi, selama 40 tahun ia merindukan Indonesia yang
disebutnya sebagai Langit Yang Jauh. Ia menyebut demikian karena untuk ke
Indonesia baginya tidak mudah. Ia takut, kedatangannya ditolak pemerintah
Indonesia. Maka, ia lalu berpesan, ketika meninggal minta dikremasi dan abunya
ditaburkan di Gunung Sriti-Batu. Katanya, tempat itu sangat indah bak surga. Di
Gunung Sriti ia punya kenangan manis, bertemu dengan seorang pemuda yang
kemudian menjadi suaminya. Sayangnya, suaminya itu tidak mau menyertainya
kembali ke Tiongkok. Ia memilih tinggal di Indonesia, mengganti namanya dengan
nama Indonesia dan kemudian ia menikahi perempuan Boyolali. Kabarnya, ketika
meletus G 30 S PKI, suami nenek Peony dibunuh dengan cara yang keji oleh
penduduk setempat, karena ia dituduh PKI! Tapi, bagaimanapun nenek Poeny tetap
menganggap Indonesia adalah Tiankong, sebuah Surga dan ia ingin menjadi salah
satu penghuninya
Akhirnya
si Aku pun mengerti maskud dan tempat Tian-Tiangkong, lalu Poeny pun mengajak
si Aku ke Batu-Malang, untuk melaksanakan li bagi neneknya.
Tanggapan
Cerpen ini
memang sangat menarik dan memberikan banyak pelajaran bagi para pembacanya.
Kita bisa mengetahui keadaan pada saat zaman setelah kemerdekaan dan bagaimana
kehidupan yang dialami oleh warga-warga keterununan. Adapun tema cerpen ini
adalah mengenai kerinduan.
Gaya
bahasa yang digunakan oleh pengarang memang sederhana tetapi syarat akan makna.
Para tokohnya pun seperti Aku, Peony Wu, dan nenek digambarkan secara jelas
sehingga pembacanya bisa membayangkan bagaimana sosok dari para tokohnya. Aku
adalah seorang pemuda biasa yang mudah tertarik pada wanita cantik serta
memiliki sifat malu-malu. Poeny Wu digambarkan sebagai sosok wanita yang ramah,
modis dan sangat cantik. Sedangkan nenek adalah seorang wanita tangguh,
berpendirian dan sangat cinta Indonesia.
Alur dari
cerpen ini bersifat mundur karena inti cerita ini adalah mengenai nenek Poeny
Wu dan hal itu terjadi pada zaman dahulu, sehingga si penulis menggunakan cara
penyampaiannya dengan cara Poeny Wu menceritakan kembali mengenai kehidupan
neneknya kepada si Aku (pemuda). Adapun alur lengkapnya adalah sebagai berikut.
- Masuknya Poeny Wu ke dalam pesawat
- Bersebelahannya tempat duduk Poeny Wu dengan si Aku
- Dimulainya pembicaraan diantara kedunya
- Penceritaan mengenai nenk Poeny Wo dari semenjak ia dipulangkan sampai akhirnya meninggal
- Pelaksanaan li bagi neneknya di Batu-Malang
Adapun
sudut pandang yang digunakan oleh pengarang ialah sudut pandang orang pertama
dimana hal itu cukup bagus, membuat para pembacanya seolah-olah dapat terlibat
langsung ke dalam cerita tersebut.Adapun amanat yang dapat saya petik adalah
kita harus cinta dan bangga akan tanah air kita Indonesia, seperti yang
dirasakam oleh nenek Peony. Karena Indonesia merupakan Negara yang memiliki
kekayaan alam yang sangat indah bagaikan di Tian-Tiangkong
Cerpen ini
memang sangat bagus umtuk dibaca oleh semua kalangan karena sangat merik dan
mengandung bayak pelajaran yang dapat dipetik darinya.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar