Senin, 04 November 2013

Uniknya Manusia

Melihat realita di kehidupan saya belakangan ini membuat saya berfikir bahwa penilaian kita terhadap satu sama lain akan bersifat unik. Mengapa? tentunya manusia diciptakan berbeda satu sama lain. Ya, jika kita menerka seperti apa sifat dan sikap orang yang kita kenal, belum tentu orang itu seperti apa yang telah kita duga sebelumnya. Kebanyakan manusia selalu berasumsi terhadap hal negatif dimana itu bisa membentuk pola fikir mereka terhadap orang yang mereka kenal.

Hemm, ya penulis belakangan ini melihat realita tersebut dan hanya bisa tertawa dan lucu melihat sifat manusia yang tidak sesuai dengan dirinya. hahahaha, bukan "GOSIP" atau menceritakan orang lain, penulis telah melihat hal tersebut dari realita yang ada. Kadang perbuatan baik dari diri sendiri belum tentu dianggap baik oleh orang lain. Yap, jangan berasumsi negatif terlebih dahulu pembaca :) ... 

Tidak munafik, dahulu penulis juga bersikap seperti itu. Tapi, setelah penulis sadar beberapa dari sikap itu perlu diperbaiki. Entah kadang hal kecil pun bisa terlewatkan oleh diri kita sendiri terhadap lingkungan sekitar. Manusia memang tidak ada yang sempurna, dunia ini bukanlah surga tapi tempat untuk singgah sementara. 

Sisanya,. kembali ke pribadi atau diri masing-masing bagaimana memperbaiki diri sebelum menghujat orang disekitar kita. Mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Ingat, bukan menuntut harus berubah tapi memperbaiki apa yang salah 

Kepercayaan Terhadap Negeri Ini

Bagaimana kepercayaan anda sekarang terhadap negeri anda sendiri?? Tidak kah indah ketika para petinggi negara yang tidak bertanggung jawab menyelewengkan kepercayaan rakyatnya?. Saling tuduh menuduh satu sama lain untuk melindungi diri dari tanggapan miring. Carut marut dunia politik ini seperti hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang menang. Sepertinya hukum itu yang lebih kuat mengikat untuk para politisi di negeri ini ketimbang tanggung jawab mereka untuk diri sendiri, masyrakat, bangsa dan negara. 

Entah, ketika iman mudah dikelabui oleh uang dan tanggung jawab pun sirna. Tidak munafik, kita semua pasti memiliki rasa seperti itu hingga akhirnya kita sadar dan menyesalinya pada sebuah titik akhir. Ya, saya cinta negeri ini tapi lucu sekali melihat negeri ini. Semua kembali kepada diri pribadi kita masing-masing sebagai warga negara Indonesia. 

Bukan menjudge atau menilai buruk, realita yang ada berkata seperti itu. But, janganlah kita mengambil sisi negatifnya terlebih dahulu melainkan hal positif yang sudah dibuat sejauh ini. Hemm, rakyat yang bisa menilai sendiri. Setidaknya apa yang bisa dilakukan oleh para kaum-kaum berdasi disana untuk mengembalikan kepercayaan rakyat yang perlahan terkikis? 

Tidak kah indah ketika kepercayaan bisa dibeli dengan uang? Ya, negara kita sudah terkenal akan korupsinya dimata dunia. Inikah yang patut kita banggakan?. 

Minggu, 03 November 2013

Karangan Deskripsi

                                                                 BAB I
PENDAHULUAN

Menulis ialah menurunkan atau menuliskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang. Sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut apabila mereka memahami bahasa dari lambang grafik itu. Dengan kriteria seperti itu dapatlah dikatakan bahasa menyalin atau mengopi huruf-huruf ataupun menyusun suatu naskah dalam huruf-huruf tertentu untuk dicetak bukanlah menulis apabila orang-orang tersebut tidak memahami bahasa tersebut tidak memahami beserta representasinya.
Pembelajaran keterampilan menulis memiliki berbagai macam bentuk. Salah satunya adalah keterampilan menulis karangan. Dalam pembelajaran menulis, diharapkan kita tidak hanya dapat mengembangkan kemampuan membuat karangan namun juga diperlukan kecermatan untuk membuat argumen, memiliki kemampuan untuk menuangkan ide atau gagasan dengan cara membuat karangan yang menarik untuk dibaca salah satunya yaitu membuat karangan deskripsi.

  
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Karangan Deskripsi
Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.
Karangan deskripsi adalah tulisan yang berusaha memberikan perincian atau melukiskan dan mengemukakan objek yang sedang dibicarakan (seperti orang, tempat, suasana atau hal lain). Atau karangan jenis ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut. Karangan deskrispi bertujuan melukiskan atau memberikan gambaran terhadap sesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, membaca, atau merasakan hal yang dideskripsikan.
Menurut Keraf (1982: 2), Deskripsi atau pemerian merupakan sebuah bentuk tulisan yang bertalian dengan usaha para penulis untuk memberikan perincian-perincian dari objek yang dibicarakan, “Rusyana (1986:131) mengemukakan bahwa, deskripsi, lukisan atau pemerian ialah karangan yang melukiskan sesuatu, menyatakan apa yang diindera, melukiskan perasaan dan perilaku jiwa dalam wujud kalimat”.
Masih menurut Rusyana (1984: 136), “terdapat kaitan antara jenis karangan yang satu dengan jenis karangan yang lainnya termasuk antara deskripsi, dengan narasi, eksposisi dan argumentasi. Deskripsi merupakan jenis karangan yang cenderung dipergunakan oleh ketiga jenis karangan laiinnya sebagai alat untuk mengkonkretkan pokok pembahasan.


B. Ciri-ciri Karangan Deskripsi
            Beberapa ahli memberikan batasan tentang tentang karangan deskripsi sesuai dengan ciri-ciri karangan deskripsi.
            Tarigan (1986:5) menyebutkan bahwa karangan deskripsi mengajak para pembaca bersama-sama menikmati, merasakan, memahami dengan sebaik-baiknya objek, adegan, pribadi dan suasana hati yang telah dialami oleh pengarang.
            Keraf (1982:94) pun memakai kata “memberikan rincian-rincian dan objek-objek”, berarti cara penyampainya harus dengan rincian-rincian objek yang akan dibicarakan.
            Berdasarkan ciri-ciri karanga deskripsi diatas maka dapat disimpulkan diantaranya:
1.      Menggambarkan atau melukiskan sesuatu
2.      Penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera
3.      Membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.
4.      Hasil penyerapan pancaindera

C. Pola Pengembangan Paragraf Deskripsi
1.  Paragraf Deskripsi Spasial, paragraf ini menggambarkan objek kusus ruangan, benda atau tempat.
2. Paragraf Deskripsi Subjektif, paragraf ini menggambarkan objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis.
3.  Paragraf Deskripsi Objektif, paragraf ini menggambarkan objek dengan apa adanya atau    sebenarnya.

D. Langkah Menyusun Deskripsi
a.      Tentukan objek atau tema yang akan dideskripsikan
b.      Tentukan tujuan
c.      Mengumpulkan data dengan mengamati objek yang akan dideskripsikan
d.      Menyusun data tersebut ke dalam urutan yang baik (menyusun kerangka karangan)
e.       Menguraikan kerangka karangan menjadi dekripsi yang sesuai dengan tema yang ditentukan

Contoh Karangan Deskripsi
Tepat pukul 06.00 aku terbangun, diiringi dengan suara-suara ayam yang berkokok seolah menyanyi sambil membangunkan orang-orang yang masih tertidur. Serta dapat ku lihat burung-burung yang berterbangan meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Dari timur sang surya menyapaku dengan malu-malu untuk menampakkan cahayanya. Aku berjalan kehalaman depan rumah tepat dihadapan ku ada sebuah jalan besar untuk berlalu lintas dari kejauhan terlihat sawah-sawah milik para petani yang ditanami padi masih berwarna hijau terlihat sangat sejuk, indah, dan damai. Dari kejauhan pula terlihat seorang petani yang sedang membajak sawahnya yang belum ditanami tumbuhan, dan ada juga petani yang sedang mencari rumput untuk makanan binatang peliharaannya seperti kambing, sapi, dan kerbau. Didesa ku rata-rata penduduknya berprofesi sebagai petani.
Pagi ini terlihat sangat sibuk, dijalan-jalan terlihat ibu-ibu yang tengah berjalan menuju pasar untuk berjualan sayuran. Tetangga ku seorang peternak bebek juga tidak kalah sibuknya dengan orang-orang. Pagi-pagi sekali dia berjalan menggiring bebek-bebeknya kerawa dekat sawah untuk mencari makanan, bebek-bebek yang pintar mereka berbaris dengan rapi pengembalanya. Sungguh pemandangan yang sangat menarik dilihat ketika kita bangun tidur.
Dihalaman rumah kakek ku yang menghadap ketimur terdapat pohon-pohon yang rindang, ada pohon mangga yang sedang berbuah sangat lebat, disamping kiri pohon mangga terdapat pula pohon jambu air yang belum berbuah karena belum musimnya. Dan disebelah kanan rumah ada pohon rambutan yang buahnya sangat manis rasanya. Sungguh pemandangan yang indah desa yang sangat asri dan damai ini adalah desa tempat tinggal kakek ku serta tempat kelahiran ku. Desa yang bernama Nambahdadi ini adalah tempat yang paling sering aku kunjungi saat liburan. Selain bias bertemu kakek dan nenek aku juga bias melihat pemandangan yang indah nan damai.

E. Macam-macam Karangan Deskripsi

1. Deskripsi Sugestif
Deskripsi sugestif ialah deskripsi yang bertujuan membangkitkan daya khayal, kesan atau sugesti tertentu, seolah-olah pembaca melihat sendiri objek (yang dideskripsikan) secara keseluruhan seperti yang dialami secara fisik oleh penulisnya.
Contoh deskripsi sugestif yang membicarakan objek tempat Kilometer Nol, Sebuah Lambang Sebuah tugu di ujung Utara pulau Weah Aceh, berdiri tegak setinggi delapan meter. Landasannya, beton berteratak mirip tangga bersusun lima. Dengan panjang dan lebar sekitar enam meter. Tentu itu terletak di sebuah semak belukar di bilangan Jaboi, kotamadya Sabang.
Itulah kilometer nol Indonesia. Berada di tugu itu, terasa sesuatu merayap di kalbu, perasaan keindonesiaan. Lagu patriotik Dari Sabang sampai Marauke seakan-akan tergiang-ngiang di telinga. Kita sedang menginjak setapak tanah di ujung paling Barat Nusantara.
Lambang Garuda begitu megah bertenger di puncak tugu. Di bawah kaki Sang Garuda, ada relief yang melukiskan untaian zamrud kepulauan di Indonesia. Memang, sempat timbul tanda tanya, apakah kilometer nol ini benar menjadi ukuran pasti dimulainya bentangan jalan raya dari ujung Barat Indonesia ke Timur. Akan tetapi, berada dititik itu, slogan Sabang-Marauke tiba-tiba menjadi sangat bermakna. Dari titik nol kilometer ini, jalan hanya selebar 3 meter. Itupun hanya permukaan sekitar 2 meter yang kelihatan, selebihnya tertutup semak belukar. Sulit dibayangkan, jika ada kendaraan 2 arah berada di jalur itu. Jarak kilometer nol ke kota Sabang 22,5 Km. Lalu, dari Sabang terbentang lagi jarak 28 mil laut atau hampir 52 Km dan tiga jam perjalanan feri ke ujung utara Sumatra. Jalan menuju kilometer nol hampir tak berbicara sebagai sebuah jalan raya. Kilometer nol pun seakan-akan tak berbicara sebagai tanda kilometer di tempat lain. Bahkan pualam bertuliskan ”KM0” telah dicopot tangan-tangan jahil. Sedangkan tugu-tugu yang kesepian itu tak pernah dihiraukan sebagai tanda kilometer jalan raya. Akan tetapi, dalam keheningan belukar di Jaboi, di bawah bola-bola awan yang keperakan, di sela-sela deburan ombak, tugu itu tetap tegar sebagai sebuah lambang yang berbicara tentang kesatuan Indonesia

2. Deskripsi Teknis
Deskripsi teknis ialah deskripsi yang bertujuan memberikan identifikasi atau informasi objek, sehingga pembaca dapat mengenal bila bertemu atau berhadapan dengan objek itu.
Contoh deskripsi teknis Tentang Agroindustri Salah satu sektor yang mempunyai arti strategis dalam Pembangunan Nasional Jangka Panjang adalah pengembangan agroindustri. Agroindustri adalah kegiatan industri yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang dan menyediakan peralatan pertanian serta jasa bagi kegiatan tersebut. Titik berat Pembangunan Jangka Panjang adalah pembangunan ekonomi dengan sasaran utama mencapai keseimbangan antara bidang pertanian dan bidang industri yang kuat ditunjang oleh pertanian yang tangguh, yang dapat membawa perubahan fundamental dalam struktur perekonomian Indonesia, sehingga produksi nasional yang berasal dari sector luar pertanian merupakan bagian yang makin besar dan akhirnya menjadi tulang punggung perekonomian. Industri yang kuat adalah industri yang strukturnya kukuh dan berakar pada kemampuan sumber daya alam yang dimiliki dan yang dapat menjelmakan kaitan ke depan, ke samping, dan ke belakang dengan industri lainnya.
Pertanian yang tangguh adalah yang mampu menyediakan bahan baku hasil pertanian dalam jumlah, mutu, dan waktu yang dapat mendorong pertumbuhan industri. Dengan demikian, sector agroindustri merupakan mata rantai penghubung antara sector pertanian dan sector industri. Pengembangan sector agroindustri di samping mempunyai arti strategis dalam kerangka Pembangunan Nasional Jangka Panjang juga dapat meningkatkan daya serap tenaga kerja dengan membuka spectrum baru lapangan kerja yang luas dan beragam, baik formal maupun nonformal. Ruang lingkup agroindustri yang luas memungkinkan tenaga kerja informal bisa diserap lebih banyak. Agroindustri meliputi industri pengolahan hasil pertanian, industri peralatan dan mesin pertanian serta industri jasa pertanian. Industri pengolahan hasil pertanian mempunyai lima subsektor, yaitu: industri pengolahan tanaman pangan, perkebunan, hasil hutan perkebunan, dan hasil peternakan. Industri peralatan dan mesin pertanian mencakup industri peralatan dan mesin pertanian budidaya serta pengolahan. Industri jasa sektor pertanian meliputi perdagangan, konsultasi, dan komunikasi.


BAB III
KESIMPULAN
Paragraf deskripsi adalah paragraf yang berusaha untuk memindah-kan kesan, hasil pengamatan, dan perasaannya kepada pembaca. Penulis berusaha untuk menyampaikan sifat dan semua rincian wujud yang ditemukan pada objek yang ditulis itu. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan atau memungkinkan terciptanya daya khayal atau imajinasi kepada para pembacanya, sehingga seolah-olah pembaca melihat atau merasakan sendiri objek yang dibicarakan secara keseluruhan seperti yang dialami oleh penulisnya.

Berdasarkan tujuannya, deskripsi dibedakan menjadi dua yaitu, (1) deskripsi sugestif dan (2) deskripsi teknis (deskripsi ekspositoris), sedangkan berdasarkan cara pendekatannya agar objek yang digambar-kan dapat tepat maksudnya dibagi menjadi (1) pendekatan realistis, (2) pendekatan impresionistis, dan (3) pendekatan menurut sikap pengarang.

Berdasarkan kategori yang biasa diungkapkan, ada dua objek yang dapat kita deskripsikan, hal itu adalah deskripsi orang dan deskripsi tempat. Untuk mempermudah melakukan pendeskripsian, berikut adalah rambu-rambu yang dapat Anda ikuti.
1.      Menentukan hal apa yang hendak dideskripsikan. 
2.      Merumuskan tujuan pendeskripsian. 
3.      Menetapkan bagian yang akan dideskripsikan. 
4.  Merinci dan menyistematiskan hal-hal yang menunjang kekuatan bagian yang akan    dideskripsikan.


DAFTAR PUSTAKA

Winaryo Sukahmad. 2004. Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik. Tarsito. Bandung
Sugiono. 2011. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung
Cecep Wahyu Hoerudin. Kaidah dan Pelatihan Bahasa Indonesia. 2005. Insan Mandiri. Bandung
Heri jauhari. 2007. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Pustaka Setia. Bandung
http://id.wikipedia.org/wiki/Karangan
http://ryansikep.blogspot.com/2009/12/karangan-deskripsi-dan-eksposisi.html
http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/ciri-tulisan-narasi-deskripsi-eksposisi-dan-argumentasi/
http://mrjamyas.blogspot.com/2008/05/karangan-deskripsi.html

Minggu, 13 Oktober 2013

TUGAS MATA KULIAH BAHASA INDONESIA 1

BAHASA INONESIA 1
ABSTRAKSI

                               I.            DEFINISI ABSTRAKSI

 Abstrak merupakan suatu ringkasan yang lengkap dan menjelaskan keseluruhan isi artikel ilmiah. Abstrak umumnya disajikan dalam satu paragraf dan disarankan tidak lebih dari 200 kata (beberapa jurnal mengijinkan sampai 400 kata). Abstrak ditempatkan pada bagian awal artikel ilmiah. Penulisan abstrak yang baik perlu dipertimbangkan mengingat bagian ini merupakan bagian artikel yang dibaca setelah judul. Bagian artikel yang paling sulit dikerjakan adalah abstrak. Abstrak dalam bahasa Inggris merupakan satu kemutlakan yang harus ada (persyaratan dalam akreditasi jurnal ilmiah).
Abstrak harus bersifat informatif dan deskriptif, artinya setiap informasi yang terkandung pada abstrak tersebut harus berdasarkan fakta. Dengan kata lain, sangat tidak diperkenankan untuk mencantumkan informasi yang tidak ada faktanya yang jelas dalam isi artikel pada suatu abstrak. Abstrak yang baik harus mengandung empat unsur: argumentasi logis perlunya dilakukan observasi atau penelitian untuk memecahkan masalah, pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah (metode), hasil yang dicapai dalam penelitian serta kesimpulan yang diperoleh. Setiap unsur hendaknya diungkapkan dalam kalimat yang singkat dan jelas, dengan demikian keseluruhan abstrak menjadi tidak terlalu panjang.
Abstrak tidak boleh mengandung pustaka dan penunjukkan gambar atau tabel. Data dalam abstrak, hendaknya disajikan secara tepat sehingga pembaca tidak perlu mengacu pada ilustrasi yang disajikan di dalam teks. Dengan alasan yang sama, sebaiknya dihindari penggunaan singkatan pada abstrak. Penyajian abstrak dengan cara seperti ini menjadi sangat penting, bila diinginkan suatu artikel ilmiah dibaca secara luas.

                            II.            Fungsi / Tujuan abstrak:
·         Current awareness: memudahkan para pembaca untuk mendapatkan informasi terbaru tentang suatu bidang yang diminati, tanpa harus membaca seluruh isi dokumen
·         ·Menghemat waktu pembaca
·         Melanjutkan membaca atau tidak ?
·         Menghindari terjadi duplikasi tulisan
·         Keyword : memudahkan dalam penyimpanan secara elektronis

                         III.            SIFAT-SIFAT ABSTRAK

Ø  UTUH
Sebuah abstrak yang baik seharusnya bersifat utuh (complete) dan  berdiri sendirI. Utuh di sini berarti bahwa paragraf tersebut berisi semua komponen yang seharusnya ada dalam sebuah abstrak. Standalone artinya bahwa abstrak tersebut bisa memberikan pemahaman kepada pembaca tentang esensi isi artikel tanpa harus melihat artikel tersebut secara keseluruhan. Harap diingat bahwa abstrak adalah miniature tulisan ilmiah sehingga semua komponen penting artikel harus tercantum dalam abstrak.

Ø  Sarat Makna (Concise)
Sarat makna artinya kata dan kalimat yang digunakan dalam abstrak mempunyai makna yang padat, namun tetap akurat. Untuk menjelaskan sesuatu, gunakan kata dan kalimat sesingkat mungkin tanpa mengurangi makna ketika menggunakan kalimat yang panjang. Jadi, kalau kalimat yang panjang dan pendek itu sama maknanya maka kalimat yang lebih pendek itu adalah sarat makna.

Ø  Jelas (clear)
Abstrak juga harus jelas, baik dalam kata dan kalimat yang digunakan maupun dalam rangkaian kalimatnya untuk membentuk sebuah pemahaman. Alur informasi yang disampaikan oleh abstrak harus jelas sehingga sebuah abstrak memang harus punya organisasi yang baik.

Ø  Terangkai baik (cohesive)
Kalimat-kalimat yang menyusun sebuah abstrak harus terangkai dengan baik. Antara satu kalimat dan kalimat berikutnya, harus mengalir dengan baik. Jangan terkesan melompat atau patah. Gunakan kata sambung bila perlu. Tujuannya tidak lain agar keterbacaan (readability) abstrak tersebut tinggi.

                         IV.            Hal-hal Penting dalam Membuat Abstrak

Beberapa hal penting yang sebaiknya anda perhatikan pada saat membuat abstrak adalah sebagai berikut:
ü  Tidak informasi baru - Abstrak tidak boleh mengandung informasi baru yang tidak tercantum di dalam artikel utama.

ü  Kalimat sederhana dan tidak bertele-tele - Kalimat dalam abstrak hendaknya dibuat langsung dan tidak bertele-tele, apalagi mengandung kata-kata kiasan. Harap diingat bahwa ruang yang tersedia untuk abstrak sangat terbatas sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin dengan kalimat-kalimat yang penuh dan sarat makna.

ü  Menghindari singkatan dan istilah - Singkatan dan istilah yang tidak umum sebaiknya tidak digunakan dalam abstrak. Umum tidaknya sebuah istilah dan singkatan, bisa berbeda antara satu bidang ilmu dengan bidang ilmu lainnya

ü  Sekali saja - Kalimat-kalimat yang dicantumkan dalam abstrak masing-masing mempunyai arti yang unik dan menyampaikan informasi yang unik pula. Karena ruang yang terbatas, informasi harus disampaikan sekali saja.

ü  Panjang abstrak - seberapa panjang abstrak yang harus anda buat? Untuk artikel ilmiah, panjang abstrak biasanya berkisar antara 150 hingga 250 kata. Untuk laporan skripsi, tesis, atau disertasi biasanya mempunyai abstrak yang lebih panjang dari itu. Yang paling penting untuk dilakukan adalah memeriksa panduan penulisan yang ada. Jangan membuat abstrak melebihi ketentuan yang berlaku.

                            V.            Anatomi Abstrak

Karena abstrak adalah bentuk mini dari artikel atau tulisan utama, abstrak memiliki anatomi yang mirip dengan tulisan utama. Abstrak mengandung hal-hal penting dari tulisan utama.

Sebuah abstrak yang baik memiliki anotomi seperti di bawah ini:
a)      Pembukaan - Bagian ini mengawali sebuah abstrak dan biasanya terdiri dari satu atau paling banyak dua kalimat. Bagian pembukaan ini menjawab pertanyaan:  mengapa itu penting? Bisa juga bagian ini tidak ada, dan abstrak langsung dimulai dengan tujuan penelitian.

b)      Masalah dan tujuan - Bagian ini selalu ada dalam sebuah abstrak, dan biasanya merupakan kalimat pertama atau kedua dari abstrak. Di bagian ini pula sering dicantumkan hipotesis penelitian.

c)      Materi dan Metode - Bagian menyusul bagian masalah, tujuan, dan hipotesis penelitian. Bagian ini menjawab pertanyaan-pertanyaan: bagaimana penelitian dilakukan?, metode apa yang digunakan?, dan analisis apa yang diterapkan?

d)     Hasil - Bagian ini mencantumkan hasil penelitian, termasuk signifikansi secara statistik dari hasil penelitian tersebut. Abstrak tidak mengandung pembahasan (diskusi) yang merupakan interpretasi penulis terhadap hasil penelitian. Dengan demikian, hasil penelitian ditampilkan apa adanya.

e)      Kesimpulan - Ini adalah bagian terakhir dari sebuah abstrak. Di sini penulis menyampaikan kesimpulan dalam kaitan dengan jawaban pertanyaan penelitian.

VI. JENIS ABSTRAK

1.2. Abstrak Deskriptif

Sebagai abstrak deskriptif, Abstrak hanya menyajikan uraian yang sangat singkat tentang isi tulisan tanpa menyatakan apa yang dibahas dalam aspek-aspek yang tercakup pada tulisan itu sendiri. Dengan kata lain, untuk menjelaskan gagasan utama yang terdapat pada tulisan, Abstrak cukup disusun dalam kalimat tunggal sehingga Abstrak tidak memerlukan perincian yang bersifat detil ataupun contoh-contoh yang bersifat ilustratif. Pandangan penulis tentang karyanya pun tidak akan tampak dalam Abstrak. Pendek kata, pada Abstrak penulis hanya menyajikan hal-hal yang bertalian dengan topik atau menyajikan semata-mata tentang problematika yang terdapat dalam tulisannya.

1.3. Abstrak Informatif: Ringkasan (Precise)

Ringkasan merupakan penyajian singkat tentang isi tulisan dengan memperlihatkan urutan dari isi atau bab-bab yang terdapat dalam tulisan. Dalam bentuknya yang singkat itu, urutan tentang isi atau bab-bab tulisan disajikan secara proporsional. Pada prinsipnya di dalam ringkasan, gagasan dan pendekatan penulis telah tampak dan problematika berikut upaya pemecahan yang ada dalam tulisan disajikan berurutan sesuai bab-bab yang ada. Adakalanya ilustrasi juga disertakan dalam ringkasan. 

1.4. Abstrak Informatif: Ikhtisar (Summary)

Abstrak yang berbentuk ikhtisar sebenarnya sering digunakan para penulis dalam membuat kutipan secara tidak langsung ataupun di dalam menyimpulkan suatu uraian. Sebagai salah satu bentuk abstrak, ikhtisar juga merupakan penyajian singkat tentang isi tulisan namun tidak mempertahankan urutan bab-bab yang ada seperti halnya pada ringkasan. Dengan demikian, problematika dan upaya pemecahan yang tersaji dalam tulisan dijelaskan secara ringkas dan bebas tanpa memberikan penjelasan mengenai isi dari seluruh tulisan secara proporsional. Ilustrasi pun kadang juga diperlukan dalam sebuah ikhtisar.

 1.5. Panjang Abstrak

Tidak terdapat patokan yang absolut mengenai besar kecilnya ringkasan maupun ikhitisar namun bagi penulis pemula dapat mempergunakan patokan seperti misalnya apabila jumlah halaman tulisan adalah 250 halaman, maka proporsi untuk ringkasan atau ihtisar dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus di bawah ini : 

Jumlah halaman X baris setiap halaman X kata dalam dalam satu baris.
(           250         X               25                X                  9 )                           = 56.250 kata

maka jumlah halaman ringkasan atau ikhtisar yang dibutuhkan adalah :
56.250 : (25X9) = 250 kata = ± 1,1 halaman berukuran kuarto dalam 1 spasi atau ±2,5 halaman dalam 2 spasi pada kertas berukuran kuarto

Patokan untuk menentukan jumlah baris dalam satu halaman maupun jumlah kata dalam satu baris seperti digunakan pada contoh di atas adalah berasal dari standar masyarakat ilmiah bahwa huruf yang dipakai untuk karya ilmiah adalah berukuran PICA pada mesin ketik atau sama dengan jenis huruf Times New Roman 12 pada program pengolah kata MS Word dan sejenisnya.
Rumus untuk menentukan ukuran ringkasan atau ikhtisar seperti di atas hanyalah gambaran umum yang tidak perlu ditetapkan secara ketat karena yang penting adalah ukuran dan keseimbangan proporsional dengan besar tebal tipisnya sebuah tulisan.

Referensi Artikel: