Kata dan sajak itu kini hanya kiasan, dimana mereka menilai dan menghujat.
Puisi itu kini hanya terdiam, dengan kata-kata yang bisu mewakili perasaan.
Dimana mereka berdiri untuk menghapusnya dan mereka bicara untuk memusnahkannya.
Puisiku kini hanyalah sebuah sampah.
Mereka menilai dengan sebelah mata
Menghujat tanpa rasa
Menghakimi yang tak seharusnya dihakimi
Mereka tak mengerti sampai akhirnya mereka menyadari.
Puisi merupakan hati yang bicara
Namun bagi mereka, puisi hanyalah sampah. Tak berarti dan tak berguna
Kertas yang pilu dengan tinta yang mulai mengering mencabik jemari untuk mengukir kata-kata dimana hati tak dapat bicara.
Setiap kata mewakili sebuah rasa, apakah terasa?
Membabi buta mereka membunuh perlahan.
Jejaknya hilang bersama caci yang terdiam dalam goresan pena yang memudar.
Ya, kata-kata itu kini menjadi sampah diantara sebelah mata dan mulut yang hina.
Enyahlah kertas itu hingga tiada kata tercipta dimana pena tak perlu mengurai air matanya hingga terbit fajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar